Kategori: Uncategorized

Cara Pulih dari Kecanduan Judi: Langkah Strategis Mengembalikan Kesejahteraan Finansial

Cara Pulih dari Kecanduan Judi: Langkah Strategis Mengembalikan Kesejahteraan Finansial


Tittle : Cara Pulih dari Kecanduan Judi: Langkah Strategis Mengembalikan Kesejahteraan Finansial

Cara Pulih dari Kecanduan Judi: Langkah Strategis Mengembalikan Kesejahteraan Finansial

Kecanduan judi (pathological gambling) adalah masalah serius yang merusak kesehatan mental sekaligus menghancurkan stabilitas ekonomi. Namun, sesulit apa pun kondisinya saat ini, pemulihan itu mungkin dilakukan.

Langkah pertama menuju kesejahteraan adalah mengakui adanya masalah dan berkomitmen untuk berhenti total. Berikut adalah panduan praktis untuk membantu Anda atau orang terdekat keluar dari lingkaran judi dan menata kembali masa depan finansial.


1. Akui dan Putuskan Hubungan dengan Akses Judi

Pemulihan tidak akan berhasil selama akses masih terbuka. Langkah teknis yang harus segera diambil adalah:

  • Blokir Semua Situs Judi: Gunakan aplikasi pemblokir situs judi (gambling blockers) di ponsel dan laptop Anda.
  • Hapus Akun: Tutup secara permanen semua akun judi online maupun aplikasi perbankan yang sering digunakan untuk deposit.
  • Hindari Lingkungan Pemicu: Jauhi teman atau komunitas yang sering membahas taruhan. Jangan menonton pertandingan olahraga jika itu menjadi pemicu (trigger) utama keinginan Anda untuk bertaruh.

2. Serahkan Kendali Keuangan kepada Orang Kepercayaan

Pecandu judi yang sedang dalam masa pemulihan sangat rentan terhadap godaan saat memegang uang tunai.

  • Delegasi Keuangan: Berikan akses rekening atau pengaturan gaji kepada pasangan, orang tua, atau saudara yang tepercaya untuk sementara waktu.
  • Batasi Limit Transaksi: Atur limit harian di aplikasi mobile banking Anda agar tidak bisa melakukan transfer dalam jumlah besar secara mendadak.

3. Susun Rencana Pelunasan Utang yang Realistis

Beban utang sering kali membuat pecandu merasa putus asa dan ingin berjudi lagi untuk “menutup lubang”. Jangan lakukan itu.

  • Daftar Semua Utang: Tuliskan semua tanggungan, mulai dari pinjaman bank hingga pinjol atau utang ke teman.
  • Prioritaskan Bunga Tertinggi: Gunakan metode debt avalanche (melunasi bunga terbesar dulu) atau debt snowball (melunasi utang terkecil dulu untuk membangun motivasi).
  • Negosiasi: Jika utang ke perorangan, jujurlah tentang kondisi Anda dan mintalah penjadwalan ulang pembayaran tanpa perlu meminjam lagi.

4. Cari Bantuan Profesional dan Dukungan Sosial

Kecanduan judi adalah gangguan kontrol impuls yang sering kali membutuhkan bantuan medis atau psikologis.

  • Konseling/Psikoterapi: Terapi perilaku kognitif (CBT) sangat efektif untuk mengubah pola pikir pecandu tentang peluang dan kemenangan.
  • Grup Pendukung: Bergabunglah dengan komunitas seperti Gamblers Anonymous untuk berbagi pengalaman dengan orang-orang yang memiliki perjuangan serupa.

5. Bangun Kebiasaan Baru yang Produktif

Waktu luang adalah musuh bagi mantan pecandu. Isi waktu Anda dengan aktivitas yang memberikan hormon dopamin secara sehat:

  • Olahraga: Aktivitas fisik membantu mengurangi stres dan kecemasan.
  • Hobi Baru: Mulailah kegiatan yang tidak berhubungan dengan risiko uang, seperti berkebun, memasak, atau belajar keterampilan baru.
  • Fokus Kerja: Salurkan energi untuk meningkatkan produktivitas di kantor atau membangun bisnis kecil yang riil dan legal.

Tabel: Fokus Pemulihan Jangka Pendek vs Jangka Panjang

TahapanFokus Utama
Minggu 1-4Detoksifikasi digital, blokir akses, dan pengalihan kendali keuangan.
Bulan 2-6Konseling rutin dan mulai mencicil utang terkecil.
6 Bulan +Membangun dana darurat dan memperbaiki skor kredit/kepercayaan keluarga.

Kesimpulan

Pulih dari kecanduan judi adalah sebuah perjalanan maraton, bukan lari cepat. Kesejahteraan finansial akan kembali seiring dengan kedisiplinan Anda dalam menjaga jarak dari meja taruhan. Ingatlah bahwa kemenangan terbesar dalam hidup bukanlah mendapatkan jackpot, melainkan memenangkan kembali kendali atas diri sendiri dan kebahagiaan keluarga.

Link daftar silakan di klik : https://panached.org/

Perbandingan Kesejahteraan: Negara yang Melarang vs Melegalkan Perjudian

Perbandingan Kesejahteraan: Negara yang Melarang vs Melegalkan Perjudian

Tittle : Perbandingan Kesejahteraan: Negara yang Melarang vs Melegalkan Perjudian

Perbandingan Kesejahteraan: Negara yang Melarang vs Melegalkan Perjudian

Perdebatan mengenai legalisasi perjudian selalu berbenturan antara dua kepentingan: pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial. Beberapa negara memilih melegalkannya demi pajak, sementara yang lain melarang keras demi melindungi moral dan mentalitas warga.

Bagaimana perbandingan nyata tingkat kesejahteraan penduduk di antara keduanya? Mari kita tinjau dari berbagai sudut pandang kesejahteraan masyarakat.


1. Stabilitas Finansial Rumah Tangga

Negara yang Melarang Perjudian:

Di negara yang melarang judi (seperti banyak negara dengan hukum agama yang kuat atau kebijakan sosial ketat), aliran pendapatan keluarga cenderung lebih stabil. Uang dialokasikan untuk kebutuhan primer seperti pendidikan dan tabungan. Risiko kebangkrutan mendadak akibat hutang taruhan sangat rendah, sehingga angka kemiskinan ekstrem akibat perilaku adiktif dapat ditekan.

Negara yang Melegalkan Perjudian:

Legalisasi sering kali memicu fenomena “pajak regresif”. Masyarakat berpenghasilan rendah cenderung menghabiskan uang lebih banyak untuk berjudi dengan harapan perbaikan nasib instan. Akibatnya, kesenjangan ekonomi sering kali melebar, dan banyak keluarga jatuh ke dalam lubang hutang yang dalam.


2. Kesehatan Mental dan Tingkat Stres

Kesejahteraan tidak hanya soal uang, tapi juga ketenangan batin.

  • Tingkat Depresi: Di negara dengan akses judi yang masif (seperti Australia atau beberapa negara bagian di AS), prevalensi gangguan kecemasan dan depresi akibat kekalahan judi cukup signifikan.
  • Keharmonisan Keluarga: Negara yang melarang judi umumnya memiliki angka perceraian terkait masalah finansial spekulatif yang lebih rendah. Sebaliknya, di negara yang melegalkan judi, perjudian sering menjadi alasan utama kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan keretakan keluarga.

3. Efek “Biaya Sosial” vs Pendapatan Pajak

Pemerintah sering terjebak dalam angka-angka berikut:

Aspek PerbandinganNegara Melegalkan JudiNegara Melarang Judi
Pendapatan NegaraTinggi (dari pajak kasino/judi online).Rendah (tidak ada pajak dari sektor ini).
Beban KesehatanTinggi (biaya rehabilitasi pecandu).Rendah (fokus pada kesehatan umum).
Angka KriminalitasRisiko tinggi (pencucian uang & mafia).Lebih terkendali (terkait judi).
Produktivitas KerjaTerganggu oleh distraksi judi.Cenderung lebih fokus dan stabil.

4. Kualitas Hidup Generasi Muda

Kesejahteraan masa depan sangat bergantung pada bagaimana generasi muda dididik.

Di negara yang melegalkan judi, anak-anak terpapar iklan taruhan melalui siaran olahraga dan media sosial setiap hari. Ini menciptakan persepsi bahwa kekayaan bisa didapat tanpa kerja keras. Di sisi lain, negara yang melarang judi menjaga pola pikir warganya untuk tetap pada jalur ekonomi produktif, yang dalam jangka panjang membangun fondasi kesejahteraan yang lebih kokoh.


Kesimpulan: Mana yang Lebih Sejahtera?

Secara ekonomi makro, negara yang melegalkan judi mungkin terlihat lebih kaya karena perputaran uang yang cepat. Namun, secara kesejahteraan kualitatif (kebahagiaan, kesehatan mental, dan keutuhan keluarga), negara yang melarang perjudian cenderung memiliki penduduk yang lebih stabil dan aman dari risiko sosial yang destruktif.

Kekayaan sebuah negara tidak akan berarti jika warganya hidup dalam bayang-bayang kecanduan dan hutang.

Link daftar silakan di klik : https://panached.org/

Efek Negatif Legalisasi Perjudian: Dampak Tersembunyi di Balik Pajak Negara

Efek Negatif Legalisasi Perjudian: Dampak Tersembunyi di Balik Pajak Negara

Tittle : Efek Negatif Legalisasi Perjudian: Dampak Tersembunyi di Balik Pajak Negara

Efek Negatif Legalisasi Perjudian: Dampak Tersembunyi di Balik Pajak Negara

Banyak negara melirik legalisasi perjudian sebagai mesin pencetak devisa dan sumber pajak baru yang menjanjikan. Namun, di balik angka pertumbuhan ekonomi yang terlihat di atas kertas, terdapat efek negatif negara yang melegalkan perjudian yang jauh lebih dalam dan merusak.

Legalisasi bukan sekadar masalah izin usaha, melainkan pembukaan pintu bagi berbagai krisis sosial dan kesehatan masyarakat. Artikel ini akan membedah secara menyeluruh mengapa kebijakan melegalkan judi sering kali menjadi beban jangka panjang bagi sebuah bangsa.


1. Krisis Kesehatan Mental dan Kecanduan Massal

Efek paling destruktif dari legalisasi adalah kemudahan akses yang memicu lonjakan kasus pathological gambling (kecanduan judi).

  • Gangguan Psikologis: Pecandu judi memiliki risiko lebih tinggi terkena gangguan kecemasan, depresi klinis, dan insomnia.
  • Risiko Bunuh Diri: Penelitian menunjukkan bahwa tingkat bunuh diri di wilayah dengan akses judi legal lebih tinggi dibandingkan wilayah yang melarangnya, akibat tekanan finansial dan rasa malu yang ekstrem.
  • Normalisasi pada Remaja: Paparan iklan judi yang legal menciptakan persepsi pada generasi muda bahwa berjudi adalah cara normal untuk mencari uang, yang merusak mentalitas kerja keras.

2. Dampak Ekonomi: “Pajak bagi Masyarakat Miskin”

Secara ironis, industri judi sering kali menyedot kekayaan dari kelompok masyarakat yang paling tidak mampu menanggungnya.

  • Eksploitasi Ekonomi: Masyarakat berpenghasilan rendah cenderung menghabiskan persentase pendapatan yang lebih besar untuk berjudi. Hal ini menyebabkan uang yang seharusnya digunakan untuk nutrisi, pendidikan, dan kesehatan justru mengalir ke kasino.
  • Penurunan Produktivitas: Kecanduan judi di tempat kerja menyebabkan penurunan konsentrasi, absensi tinggi, hingga tindakan kriminal kerah putih seperti penggelapan dana perusahaan.

3. Degradasi Sosial dan Kehancuran Keluarga

Negara yang melegalkan judi sering kali mencatat kenaikan signifikan dalam masalah domestik.

  • Keretakan Rumah Tangga: Perjudian adalah salah satu faktor utama pemicu perceraian. Ketidakstabilan finansial memicu konflik hebat yang berujung pada KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga).
  • Pengabaian Anak: Anak-anak yang tumbuh di keluarga pecandu judi cenderung mengalami penelantaran emosional dan kekurangan kebutuhan dasar, menciptakan siklus kemiskinan baru.

4. Beban Biaya Sosial (Social Costs) bagi Pemerintah

Meskipun pemerintah menerima pajak dari industri judi, jumlah tersebut sering kali “habis” untuk membiayai dampak yang ditimbulkannya.

Sektor BebanJenis Pengeluaran Pemerintah
KesehatanPembangunan pusat rehabilitasi kecanduan judi.
HukumPenanganan kasus penipuan, pencucian uang, dan kejahatan terkait hutang.
KesejahteraanPemberian bantuan sosial bagi keluarga yang jatuh miskin akibat judi.

Analisis: Sering kali, biaya sosial yang dikeluarkan pemerintah (biaya kesehatan dan keamanan) jauh lebih besar daripada pendapatan pajak yang diterima dari kasino.


5. Infiltrasi Kejahatan Terorganisir (Mafia)

Legalisasi sering kali gagal menghapus pasar gelap. Sebaliknya, industri judi legal sering menjadi kedok bagi mafia untuk:

  • Pencucian Uang: Mengaburkan asal-usul uang hasil narkoba melalui perputaran uang di kasino.
  • Korupsi Politik: Industri judi yang kaya memiliki kekuatan finansial besar untuk melakukan lobi politik dan menyuap pejabat agar regulasi tetap longgar.

Kesimpulan: Kerugian yang Tak Terbayar oleh Pajak

Legalisasi perjudian mungkin memberikan suntikan dana cepat bagi kas negara, namun efek negatif negara yang melegalkan perjudian terhadap integritas manusia dan stabilitas sosial sangatlah mahal harganya. Masyarakat yang sehat secara mental dan finansial adalah aset negara yang jauh lebih berharga daripada pendapatan dari meja taruhan.

Negara harus mempertimbangkan apakah “keuntungan” jangka pendek dari pajak judi sebanding dengan kerusakan generasi dan beban sosial yang harus ditanggung di masa depan.

Link daftar silakan di klik : https://panached.org/

Hubungan Gelap Judi, Narkoba, dan Mafia: Analisis Ekosistem Kriminalitas Modern

Hubungan Gelap Judi, Narkoba, dan Mafia: Analisis Ekosistem Kriminalitas Modern

Tittle : Hubungan Gelap Judi, Narkoba, dan Mafia: Analisis Ekosistem Kriminalitas Modern

Hubungan Gelap Judi, Narkoba, dan Mafia: Analisis Ekosistem Kriminalitas Modern

Dalam studi kriminologi, fenomena judi, narkoba, dan mafia sering kali disebut sebagai “segitiga maut”. Ketiganya tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk sebuah ekosistem yang saling mendukung untuk mempertahankan kekuasaan dan kekayaan di dunia bawah tanah (underworld).

Memahami bagaimana ketiga elemen ini saling berhubungan sangat penting untuk menyadari besarnya ancaman yang dihadapi oleh tatanan sosial, ekonomi, dan keamanan global.


1. Mafia: Sang Pengendali Utama (The Brain)

Mafia atau sindikat kejahatan terorganisir bertindak sebagai otak dan penyedia infrastruktur. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan kekerasan fisik, tetapi telah bertransformasi menjadi organisasi bisnis ilegal yang canggih.

Mafia mengelola “bisnis” judi dan narkoba karena keduanya memiliki sifat adiktif yang menjamin adanya permintaan pasar yang konstan. Dengan kontrol yang ketat, mafia memastikan bahwa setiap rupiah yang keluar dari meja judi atau penjualan narkoba kembali ke kantong mereka.


2. Narkoba sebagai Sumber Modal Utama

Perdagangan narkoba adalah mesin pencetak uang tercepat bagi sindikat mafia. Keuntungan dari bisnis narkotika lintas negara memberikan likuiditas atau modal tunai yang sangat besar.

Modal inilah yang kemudian digunakan mafia untuk:

  • Membangun situs judi online internasional.
  • Menyuap oknum otoritas untuk mengamankan jalur distribusi.
  • Membeli senjata dan teknologi untuk melindungi teritorial mereka.

3. Judi sebagai Alat Pencucian Uang (Money Laundering)

Masalah terbesar bagi mafia setelah menjual narkoba adalah bagaimana menggunakan uang tersebut secara legal. Di sinilah peran judi menjadi sangat krusial.

  • Pencucian Uang: Kasino fisik maupun situs judi online digunakan sebagai kedok untuk mencuci uang hasil narkoba. Uang “kotor” dimasukkan ke dalam sistem taruhan dan ditarik kembali sebagai “kemenangan sah”.
  • Perputaran Tanpa Jejak: Perjudian memungkinkan transaksi besar terjadi tanpa kecurigaan yang berarti dari otoritas perbankan, terutama dengan penggunaan mata uang kripto dalam judi online modern.

Hubungan Simbiotik: Bagaimana Ketiganya Berinteraksi?

Kaitan antara judi, narkoba, dan mafia dapat digambarkan dalam siklus berikut:

TahapanMekanisme Hubungan
PendanaanUang hasil penjualan narkoba mendanai operasional kasino ilegal.
EksploitasiPemain yang kalah judi dan terlilit hutang dipaksa menjadi kurir narkoba oleh mafia.
DistribusiLokasi perjudian sering kali menjadi titik distribusi narkoba karena pengawasan yang tertutup.
LegitimasiKeuntungan keduanya dicuci melalui bisnis judi untuk terlihat sebagai pendapatan legal.

Dampak Penghancuran Sosial

Hubungan ini menciptakan efek domino yang merusak masyarakat secara sistemik:

  1. Kemiskinan Struktural: Judi menguras harta benda masyarakat, sementara narkoba merusak produktivitas individu.
  2. Korupsi Sistemik: Kekayaan luar biasa dari kolaborasi ini mampu merusak integritas lembaga penegak hukum melalui suap.
  3. Ancaman Generasi Muda: Akses mudah ke judi online dan narkoba menghancurkan masa depan generasi penerus bangsa.

Kesimpulan: Memutus Mata Rantai Segitiga Maut

Keterkaitan antara judi, narkoba, dan mafia adalah ancaman nyata yang terorganisir secara rapi. Memutus mata rantai ini tidak bisa hanya dilakukan dengan menangkap pelaku di lapangan, tetapi harus melalui pemutusan aliran dana (follow the money) dan pengetatan regulasi siber.

Kesadaran masyarakat untuk menjauhi perjudian dan narkotika adalah pertahanan pertama yang paling efektif dalam melemahkan kekuatan sindikat mafia.

Link daftar silakan di klik : https://panached.org/

Pro dan Kontra Legalisasi Judi: Dampak Ekonomi, Sosial, dan Regulasi bagi Negara

Pro dan Kontra Legalisasi Judi: Dampak Ekonomi, Sosial, dan Regulasi bagi Negara

Tittle : Pro dan Kontra Legalisasi Judi: Dampak Ekonomi, Sosial, dan Regulasi bagi Negara

Pendahuluan

Wacana mengenai legalisasi judi sering kali menjadi perdebatan panas di berbagai negara. Di satu sisi, ada potensi pemasukan pajak yang sangat besar; di sisi lain, ada risiko degradasi moral dan masalah sosial yang mengintai. Namun, apa yang sebenarnya terjadi jika sebuah negara memutuskan untuk melegalkan perjudian secara resmi?

Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai dampak ekonomi, risiko sosial, hingga sistem regulasi yang biasanya diterapkan oleh negara-negara yang telah menempuh jalur ini.


1. Dampak Ekonomi: Sumber Pendapatan Negara yang Masif

Alasan utama banyak negara (seperti Singapura, Las Vegas di AS, atau Macau) melegalkan judi adalah faktor ekonomi. Berikut adalah rinciannya:

  • Penerimaan Pajak (Tax Revenue): Pemerintah dapat menarik pajak tinggi dari operator kasino dan kemenangan pemain. Dana ini sering kali dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, atau kesehatan.
  • Penciptaan Lapangan Kerja: Industri perjudian tidak hanya butuh dealer, tetapi juga staf hotel, keamanan, IT, pemasaran, hingga layanan logistik.
  • Pertumbuhan Sektor Pariwisata: Kasino yang terintegrasi (Integrated Resorts) menarik wisatawan mancanegara yang membawa devisa besar bagi negara.
  • Menekan Pasar Gelap: Dengan legalisasi, aktivitas judi yang sebelumnya dikuasai sindikat kriminal bawah tanah dapat ditarik ke permukaan dan dikontrol oleh negara.

2. Dampak Sosial: Tantangan yang Harus Dihadapi

Meskipun menguntungkan secara finansial, dampak negatif terhadap masyarakat tetap menjadi perhatian utama:

Adiksi dan Masalah Psikologis

Judi bersifat adiktif. Legalisasi dapat meningkatkan jumlah “penjudi patologis” yang menghabiskan harta benda mereka, yang berujung pada depresi hingga keretakan rumah tangga.

Peningkatan Angka Kriminalitas Mikro

Meski judi legal dapat mengurangi kejahatan terorganisir, ia sering kali memicu peningkatan kriminalitas tingkat rendah di sekitar area kasino, seperti pencurian atau penipuan yang dilakukan oleh individu yang kalah judi.


3. Regulasi Ketat: Kunci Keberhasilan Legalisasi

Negara yang melegalkan judi tidak membiarkannya bebas begitu saja. Mereka menerapkan sistem Responsible Gambling yang sangat ketat:

  1. Batasan Usia dan Identitas: Pemeriksaan identitas yang ketat untuk memastikan anak di bawah umur tidak memiliki akses.
  2. Sistem Blacklist: Warga negara yang memiliki masalah finansial atau menerima bantuan sosial dilarang masuk ke kasino (seperti yang diterapkan di Singapura).
  3. Pajak Khusus Warga Lokal: Beberapa negara mengenakan biaya masuk yang mahal bagi warga lokal untuk mencegah masyarakat berpenghasilan rendah ikut bermain, sementara turis asing dibebaskan.
  4. Alokasi Dana Rehabilitasi: Negara wajib menyisihkan sebagian pajak judi untuk membiayai pusat rehabilitasi bagi pecandu judi.

4. Perbandingan: Negara yang Sukses vs Gagal

NegaraPendekatanHasil
SingapuraModel Kasino TerintegrasiPertumbuhan ekonomi tinggi dengan kontrol ketat pada warga lokal.
MacauHub Judi GlobalMenjadi pusat judi dunia, namun sangat bergantung secara ekonomi pada satu sektor.
Filipina (POGO)Judi OnlineMenghasilkan pendapatan besar, namun sempat menghadapi tantangan terkait imigran ilegal dan isu keamanan.

Kesimpulan

Legalisasi judi adalah “pedang bermata dua”. Sebuah negara dapat meraup keuntungan ekonomi yang luar biasa dan mempercepat pembangunan. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada seberapa kuat regulasi dan pengawasan yang dilakukan pemerintah. Tanpa sistem kontrol yang ketat, biaya sosial untuk menangani dampak negatifnya bisa jauh lebih besar daripada pendapatan pajak yang diterima.

Link daftar silakan di klik : https://panached.org/

Pajak Judi: Definisi, Cara Kerja, dan Status Hukumnya di Indonesia

Pajak Judi: Definisi, Cara Kerja, dan Status Hukumnya di Indonesia

Tittle : Pajak Judi: Definisi, Cara Kerja, dan Status Hukumnya di Indonesia

Pendahuluan

Di banyak negara maju, perjudian sering kali dipandang sebagai industri yang dapat memberikan kontribusi besar bagi pendapatan negara melalui skema perpajakan. Istilah pajak judi merujuk pada pungutan yang dikenakan pemerintah atas aktivitas taruhan, baik kepada penyedia layanan (bandar) maupun kepada individu yang memenangkan taruhan.

Namun, penerapan pajak ini sangat bergantung pada kebijakan dan legalitas hukum di masing-masing negara. Artikel ini akan membahas secara mendetail mengenai mekanisme pajak judi secara global dan bagaimana posisi hukum Indonesia terkait hal ini.


Apa Itu Pajak Judi?

Pajak judi adalah kategori pajak yang dikenakan atas uang yang dipertaruhkan atau dimenangkan dalam aktivitas perjudian. Secara umum, pajak ini terbagi menjadi dua jenis:

  1. Pajak Operator (Gaming Tax): Pajak yang wajib dibayarkan oleh pengelola kasino, situs judi online, atau penyelenggara lotre atas pendapatan kotor mereka.
  2. Pajak Kemenangan (Winnings Tax): Pajak yang dipotong langsung dari jumlah uang yang dimenangkan oleh pemain.

Dalam ekonomi publik, pajak ini sering dikategorikan sebagai “Sin Tax” (pajak atas dosa), serupa dengan pajak rokok atau alkohol. Tujuannya adalah untuk mendanai fasilitas publik sekaligus menekan dampak sosial negatif dari aktivitas tersebut.


Bagaimana Pajak Judi Diterapkan Secara Global?

Setiap negara memiliki aturan yang berbeda mengenai besaran dan mekanisme pemungutan pajak judi:

  • Amerika Serikat: Layanan Pajak Internal (IRS) menganggap kemenangan judi sebagai pendapatan kena pajak. Pemenang wajib melaporkan kemenangan mereka dalam SPT tahunan.
  • Inggris (UK): Sejak tahun 2001, Inggris menghapus pajak bagi pemain. Sebagai gantinya, pemerintah mengenakan pajak yang tinggi langsung kepada operator judi.
  • Singapura: Negara ini melegalkan judi di tempat tertentu (seperti Marina Bay Sands) dan mengenakan pajak yang sangat ketat untuk mendanai program sosial dan pendidikan.

Mengapa Indonesia Tidak Mengenakan Pajak Judi?

Banyak orang bertanya-tanya, “Mengapa Indonesia tidak memajaki judi saja agar pendapatan negara meningkat?” Jawabannya terletak pada Konstitusi dan Undang-Undang.

1. Ilegalitas Perjudian

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian, segala bentuk perjudian di Indonesia adalah tindak pidana. Karena aktivitasnya dilarang hukum, maka negara tidak bisa menarik pajak darinya. Menarik pajak dari judi secara resmi berarti mengakui atau melegalkan aktivitas tersebut.

2. Barang Bukti vs Objek Pajak

Dalam hukum Indonesia, uang yang dihasilkan dari judi tidak dianggap sebagai “penghasilan” yang dipajaki, melainkan sebagai barang bukti kejahatan. Berdasarkan Pasal 303 KUHP, uang hasil judi harus disita oleh negara dan pelakunya dapat dipidana penjara.

3. Perbedaan dengan Pajak Hadiah Undian

Penting untuk membedakan antara pajak judi dan Pajak Penghasilan (PPh) atas Hadiah Undian.

  • Hadiah Undian: Berasal dari kegiatan promosi resmi yang memiliki izin dari Kementerian Sosial (misalnya undian bank). Pajaknya sebesar 25% bersifat final.
  • Kemenangan Judi: Tidak ada pajaknya karena kegiatannya dilarang.

Dampak Jika Judi Dipaksakan untuk Dipajaki

Secara sosiologis, melegalkan judi demi mengejar pajak judi di Indonesia dianggap memiliki risiko yang lebih besar daripada keuntungannya:

  • Kerusakan Moral: Melegalkan judi dianggap bertentangan dengan nilai-nilai agama dan budaya masyarakat.
  • Kecanduan Massal: Akses yang dilegalkan dapat memicu angka kemiskinan baru akibat kecanduan judi.
  • Stigma Negara: Pemerintah akan dianggap “mengambil keuntungan” dari kebiasaan buruk rakyatnya.

Kesimpulan

Secara internasional, pajak judi adalah instrumen ekonomi untuk mengatur industri taruhan. Namun, di Indonesia, skema pajak ini tidak berlaku karena perjudian tetap berstatus sebagai perbuatan kriminal. Menjauhi judi adalah pilihan paling bijak untuk menjaga keamanan finansial dan terhindar dari jeratan hukum yang berat.

Link daftar silakan di klik : https://panached.org/

Judi Bawah Tanah: Menguak Sisi Gelap, Risiko, dan Dampak Hukumnya

Judi Bawah Tanah: Menguak Sisi Gelap, Risiko, dan Dampak Hukumnya

Tittle : Judi Bawah Tanah: Menguak Sisi Gelap, Risiko, dan Dampak Hukumnya

Di balik gemerlapnya dunia digital yang menawarkan taruhan terbuka, terdapat jaringan yang lebih tertutup yang dikenal sebagai judi bawah tanah. Berbeda dengan platform yang agresif beriklan di media sosial, judi bawah tanah beroperasi secara senyap, sering kali mengandalkan koneksi personal dan jaringan tertutup yang sulit dilacak oleh pihak berwenang.

Namun, di balik sifatnya yang eksklusif, judi bawah tanah menyimpan risiko yang jauh lebih berbahaya daripada perjudian pada umumnya. Artikel ini akan membahas secara detail bagaimana jaringan ini bekerja dan mengapa aktivitas ini dianggap sebagai ancaman serius bagi keamanan sosial.


Apa Itu Judi Bawah Tanah?

Judi bawah tanah merujuk pada aktivitas perjudian yang dilakukan secara ilegal tanpa izin dari pemerintah dan beroperasi di luar pengawasan hukum. Aktivitas ini bisa berupa:

  1. Rumah Judi Fisik: Lokasi rahasia seperti gudang, rumah pribadi, atau ruko yang dijadikan tempat bertaruh.
  2. Jaringan Bandar Lokal: Taruhan bola atau lotre (togel) yang dilakukan melalui pesan singkat atau perantara orang per orang.
  3. Kasino Privat: Perjudian taruhan tinggi yang hanya bisa diakses oleh kalangan tertentu dengan undangan khusus.

Mekanisme Operasional Judi Bawah Tanah

Mengapa aktivitas ini sulit diberantas? Berikut adalah beberapa mekanisme yang sering digunakan:

1. Sistem Referal Tertutup

Untuk masuk ke dalam lingkaran ini, seseorang biasanya harus dibawa oleh anggota lama yang sudah dipercaya. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan risiko masuknya informan kepolisian.

2. Transaksi Non-Lacak

Sering kali, judi bawah tanah menggunakan sistem kredit atau pembayaran tunai langsung melalui perantara (runner). Di era modern, mereka juga mulai beralih menggunakan aset kripto untuk menyamarkan aliran dana dari pantauan bank pusat.

3. Perlindungan Terorganisir

Banyak jaringan judi bawah tanah yang berafiliasi dengan organisasi kriminal tertentu untuk menyediakan “keamanan” fisik serta penagihan hutang secara paksa.


Risiko Tersembunyi di Balik Judi Bawah Tanah

Banyak pemain tertarik pada judi bawah tanah karena merasa lebih “privat” atau menawarkan limit taruhan yang lebih besar. Namun, risiko yang dihadapi sangat besar:

  • Tidak Ada Perlindungan Hukum: Jika Anda menang besar dan bandar menolak membayar, Anda tidak bisa melapor ke pihak kepolisian karena aktivitas tersebut ilegal sejak awal.
  • Kekerasan Fisik: Penagihan hutang dalam judi bawah tanah sering melibatkan intimidasi dan kekerasan fisik karena tidak melibatkan prosedur perbankan yang sah.
  • Manipulasi Hasil: Tanpa adanya audit dari lembaga pengawas, bandar sangat mudah untuk mencurangi permainan demi keuntungan sepihak.

Dampak Hukum bagi Pelaku

Dalam konteks hukum di banyak negara, termasuk Indonesia (Pasal 303 KUHP), terlibat dalam judi bawah tanah memiliki konsekuensi berat:

  1. Ancaman Pidana: Baik bandar, penyedia tempat, maupun pemain dapat dijatuhi hukuman penjara.
  2. Penyitaan Aset: Seluruh harta yang terbukti berasal dari hasil judi dapat disita oleh negara di bawah undang-undang tindak pidana pencucian uang (TPPU).
  3. Catatan Kriminal: Memiliki catatan kriminal terkait judi akan menghambat seseorang dalam mencari pekerjaan resmi atau mengurus dokumen administratif lainnya.

Cara Menghindari Jeratan Judi Bawah Tanah

Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap tawaran investasi atau permainan yang menyerupai judi. Berikut tipsnya:

  • Waspadai Tawaran Tertutup: Jika sebuah permainan uang bersifat rahasia dan tidak memiliki izin resmi, hampir dipastikan itu adalah ilegal.
  • Pahami Risiko Finansial: Tidak ada kekayaan yang dihasilkan dari judi; sistem selalu didesain agar bandar menang.
  • Edukasi Keluarga: Berikan pemahaman kepada orang terdekat bahwa judi bawah tanah sering kali menjadi pintu masuk bagi kejahatan terorganisir lainnya.

Kesimpulan

Judi bawah tanah adalah lingkaran gelap yang menjanjikan keuntungan namun berakhir dengan kerugian total. Selain risiko kehilangan harta benda, keterlibatan dalam aktivitas ini mengancam keselamatan fisik dan reputasi hukum seseorang. Menjauhi segala bentuk perjudian adalah langkah terbaik untuk menjaga stabilitas ekonomi dan ketenangan hidup keluarga.

Link daftar silakan di klik : https://panached.org/

Fenomena Judi Online: Mengapa Judi Semakin Populer di Masa Kini?

Fenomena Judi Online: Mengapa Judi Semakin Populer di Masa Kini?

Tittle : Fenomena Judi Online: Mengapa Judi Semakin Populer di Masa Kini?

Fenomena Judi Online: Mengapa Judi Semakin Populer di Masa Kini?

Fokus Kata Kunci: Judi semakin populer


Pendahuluan

Di era digital saat ini, pemandangan orang yang terpaku pada layar ponsel untuk memasang taruhan menjadi hal yang kian lazim. Fenomena judi semakin populer bukan hanya terjadi di kota besar, tapi sudah merambah hingga ke pelosok desa.

Meskipun kampanye mengenai bahaya judi terus digalakkan, jumlah pengguna platform judi justru menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Lantas, apa yang sebenarnya memicu ledakan popularitas ini? Artikel ini akan mengulas faktor-faktor utama yang membuat judi begitu cepat menyebar.


Faktor Utama Mengapa Judi Semakin Populer

Ada beberapa alasan mendasar yang saling berkaitan sehingga menciptakan gelombang besar peminat judi di masa sekarang:

1. Aksesibilitas dan Kemudahan Teknologi

Jika dulu judi memerlukan kehadiran fisik di lokasi tersembunyi, kini judi berada di genggaman tangan.

  • Judi Online: Munculnya situs dan aplikasi judi yang beroperasi 24 jam memudahkan siapapun untuk bertaruh kapan saja dan di mana saja.
  • Sistem Pembayaran Instan: Dukungan pembayaran melalui e-wallet, pulsa, hingga transfer bank membuat proses pengisian saldo (top-up) menjadi sangat cepat dan anonim.

2. Agresi Iklan dan Promosi di Media Sosial

Popularitas judi didorong oleh strategi pemasaran yang sangat masif. Iklan judi seringkali menyusup melalui:

  • Situs Streaming Film: Iklan banner yang menonjolkan visual menarik.
  • Influencer: Penggunaan jasa publik figur untuk mempromosikan situs judi dengan kedok “game online” atau “investasi”.
  • Spam WhatsApp/SMS: Pesan berantai yang menawarkan bonus deposit besar untuk menarik pemain baru.

3. Tekanan Ekonomi dan Janji Kekayaan Instan

Kondisi ekonomi yang sulit membuat banyak orang mencari jalan pintas. Judi dipasarkan sebagai solusi cepat untuk mendapatkan uang banyak dengan modal yang sangat kecil (receh). Bagi mereka yang sedang terjepit hutang atau pengangguran, janji “menang besar” menjadi harapan palsu yang sangat menggiurkan.

4. Desain Permainan yang Manipulatif

Platform judi modern dirancang oleh ahli psikologi untuk menciptakan kecanduan.

  • Gamifikasi: Judi dibuat menyerupai permainan video yang menyenangkan dengan warna-warna cerah dan efek suara kemenangan yang merangsang otak.
  • Kemenangan Kecil yang Sering: Memberikan kemenangan kecil di awal bertujuan untuk memancing hormon dopamin, sehingga pemain merasa mereka “sedang beruntung” dan terus ingin mencoba.

Dampak di Balik Popularitas Judi

Meskipun judi semakin populer, dampak yang ditinggalkan sangatlah merusak:

SektorDampak Nyata
FinansialTerjerat hutang pinjaman online (pinjol), kebangkrutan, hingga kehilangan aset.
PsikologisStres berat, depresi, kecemasan kronis, hingga keinginan bunuh diri.
SosialKehancuran rumah tangga (perceraian) dan meningkatnya angka kriminalitas.
Generasi MudaMerusak etos kerja remaja yang mulai percaya pada keberuntungan daripada usaha.

Mengapa Popularitas Ini Harus Diwaspadai?

Popularitas judi bukan menunjukkan kemajuan ekonomi, melainkan gejala kerapuhan sosial. Ketika judi dianggap sebagai gaya hidup atau cara mencari nafkah, maka fondasi produktivitas masyarakat akan runtuh.

Pemerintah dan penyedia layanan internet terus berupaya memblokir situs-situs ini, namun kesadaran individu tetap menjadi benteng pertahanan terkuat. Memahami bahwa sistem judi dirancang agar bandar selalu menang adalah langkah awal untuk melepaskan diri dari tren berbahaya ini.


Kesimpulan

Fenomena judi semakin populer adalah hasil dari perpaduan antara kemudahan teknologi dan kerentanan ekonomi masyarakat. Tanpa literasi keuangan dan kesadaran akan bahaya adiksi, lingkaran setan ini akan terus menelan korban baru. Jangan biarkan masa depan Anda dan keluarga hancur hanya demi harapan kosong di balik layar ponsel.

Link daftar silakan di klik : https://panached.org/

Judi Sebagai Lingkaran Setan: Mengapa Sangat Sulit untuk Berhenti?

Judi Sebagai Lingkaran Setan: Mengapa Sangat Sulit untuk Berhenti?

Tittle : Judi Sebagai Lingkaran Setan: Mengapa Sangat Sulit untuk Berhenti?

Pahami mengapa judi disebut sebagai lingkaran setan. Pelajari fase kecanduan, dampak psikologis, dan cara memutus rantai ketergantungan judi di sini.


Pendahuluan

Bagi banyak orang, judi mungkin dimulai sebagai hiburan sederhana atau upaya mencari keberuntungan instan. Namun, di balik janji kemenangan besar, terdapat ancaman yang jauh lebih gelap. Fenomena judi sebagai lingkaran setan bukanlah sekadar kiasan; ini adalah gambaran nyata tentang bagaimana seseorang terjebak dalam siklus adiksi yang menghancurkan finansial, mental, hingga hubungan sosial.

Mengapa judi begitu menjerat? Dan bagaimana siklus ini bekerja mengunci korbannya? Artikel ini akan mengupas tuntas mekanisme “lingkaran setan” tersebut.


Mekanisme Lingkaran Setan dalam Perjudian

Istilah “lingkaran setan” merujuk pada situasi di mana satu masalah menciptakan masalah baru yang justru membuat masalah awal semakin sulit diselesaikan. Dalam judi, siklus ini terdiri dari beberapa fase:

1. Fase Kemenangan (The Winning Phase)

Siklus dimulai ketika pemain mendapatkan kemenangan, meskipun kecil. Otak melepaskan dopamin, zat kimia yang menciptakan rasa senang dan euforia. Hal ini menanamkan keyakinan palsu bahwa mereka memiliki “bakat” atau “strategi” untuk menang terus-menerus.

2. Fase Kehilangan (The Losing Phase)

Kekalahan adalah kepastian dalam judi karena sistem selalu memihak bandar (house edge). Saat mulai kalah, pemain tidak berhenti. Sebaliknya, muncul dorongan untuk “chasing losses” atau mengejar kerugian. Mereka percaya bahwa kemenangan besar akan segera datang untuk menutup semua hutang.

3. Fase Putus Asa (The Desperation Phase)

Pada tahap ini, pemain telah menghabiskan tabungan, menjual aset, atau terjebak pinjaman online (pinjol). Tekanan finansial yang berat menciptakan stres luar biasa. Ironisnya, satu-satunya cara yang terpikirkan oleh pemain untuk melunasi hutang tersebut adalah dengan berjudi lagi. Di sinilah judi sebagai lingkaran setan mencapai titik puncaknya.


Dampak Psikologis: Mengapa Otak Sulit Berhenti?

Judi bekerja dengan cara yang mirip dengan kecanduan narkoba. Berikut adalah alasan psikologis di baliknya:

  • Intermittent Reinforcement: Otak manusia lebih cepat kecanduan pada hadiah yang datangnya tidak terduga daripada hadiah yang pasti. Ketidakpastian kapan kemenangan akan datang justru membuat pemain terus memencet tombol atau memasang taruhan.
  • Near-Miss Effect: Fenomena “nyaris menang” (misalnya dua angka sama dari tiga angka di mesin slot) diartikan oleh otak sebagai sinyal bahwa kemenangan sudah dekat, padahal secara matematis itu tetaplah kekalahan.
  • Distorsi Kognitif: Penjudi sering terjebak dalam pemikiran salah (gambler’s fallacy), seperti percaya bahwa jika merah sudah keluar lima kali, maka berikutnya pasti hitam.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Dampak dari lingkaran setan ini tidak hanya dirasakan oleh pelaku, tetapi juga lingkungan sekitarnya:

  1. Kerusakan Hubungan: Kebohongan demi kebohongan untuk menutupi hutang menghancurkan kepercayaan keluarga dan pasangan.
  2. Kesehatan Mental: Kecemasan kronis, depresi, hingga keinginan untuk mengakhiri hidup sering muncul saat tumpukan hutang tak lagi terbendung.
  3. Masalah Hukum: Demi menutupi kerugian, tak jarang penjudi nekat melakukan tindakan kriminal seperti penggelapan atau penipuan.

Cara Memutus Rantai Lingkaran Setan Judi

Keluar dari jeratan judi memang sulit, namun bukan tidak mungkin. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa diambil:

  • Akui Adanya Masalah: Pemulihan dimulai dengan kejujuran pada diri sendiri bahwa judi telah menjadi kecanduan, bukan lagi hiburan.
  • Blokir Semua Akses: Hapus aplikasi judi, blokir situs terkait, dan jauhi lingkungan yang memicu keinginan bertaruh.
  • Serahkan Kendali Keuangan: Berikan akses keuangan Anda kepada orang yang dipercaya (keluarga/pasangan) untuk sementara waktu guna mencegah penggunaan uang untuk judi.
  • Cari Bantuan Profesional: Konsultasi dengan psikolog atau bergabung dengan komunitas dukungan (support group) untuk mengatasi ketergantungan dopamin di otak.

Kesimpulan

Memahami judi sebagai lingkaran setan adalah langkah awal untuk menyadari betapa berbahayanya aktivitas ini jika dibiarkan menjadi kecanduan. Tidak ada kemenangan sejati di atas meja judi; kemenangan sesungguhnya adalah ketika Anda mampu berhenti dan mengambil alih kembali kendali atas hidup Anda.

Link daftar silakan di klik : https://panached.org/

Pria di Ciputat Gantung Diri Diduga karena Kecanduan Judi ”Online”

Pria di Ciputat Gantung Diri Diduga karena Kecanduan Judi ”Online”

Tittle: Pria di Ciputat Gantung Diri Diduga karena Kecanduan Judi ”Online”
Seorang pria di Ciputat gantung diri diduga karena terlilit utang judi online. Seperti itulah realitas jeratan judi daring atau online. Pemainnya kecanduan, buntung terlilit utang hingga bunuh diri karena stres. Kalah jadi abu, menang jadi arang. Sama-sama tidak ada untungnya.

S (44), karyawan swasta, terakhir kali terlihat sedang merokok di teras rumahnya di Jalan Roda, Kelurahan Sawah, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, Minggu (7/7/2024) dini hari. Pagi harinya ia ditemukan tewas dalam posisi gantung diri di rangka atap saung rumahnya.

Tetangganya bergegas melapor ke Kepolisian Sektor Ciputat. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan S meninggal karena gantung diri dan tidak ditemukan adanya tanda kekerasan atau luka pada tubuhnya.

”S tidak memiliki riwayat penyakit. Pihak keluarga menolak untuk dilakukan visum dan autopsi. Dari keterangan orang-orang sekitar, S mempunyai utang kepada beberapa orang,” tutur Kepala Polsek Ciputat Komisaris Kemas MS Arifin, Senin (8/7/2024).

Utang kepada beberapa orang ini masih ditelusuri penyidik. Apakah ada kaitannya dengan judi online atau tidak.

S yang diduga bunuh diri karena judi daring ini menambah rentetan panjang kasus serupa, dari masyarakat umum hingga TNI, dan Polri terjerat judi daring, terlilit utang, dan bunuh diri.

Slamet (32), sopir ojek daring di Semarang, Jawa Tengah, gantung diri pada Juni lalu karena kalah judi daring dan terlilit utang mencapai Rp 15 juta sehingga menggadaikan sertifikat rumah. Ia terjerat judi daring tiga tahun terakhir dan beberapa kali mencoba bunuh diri sebelum akhirnya tewas gantung diri.

Muhammad Nurhapif (24), sopir truk, ditemukan gantung diri dalam posisi kendaraannya parkir di bahu Jalan Tol Tangerang-Merak Km 52, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, Selasa (12/3/2024) sore.

Dari keterangan saksi, Nurhapif naik-turun truk sambil bermain permainan yang diduga judi daring. Tak berselang lama ia ditemukan tewas gantung diri dengan dugaan kalah judi daring.

Dalam kasus lainnya, Letnan Satu Dokter Eko Damara diduga bunuh diri karena judi daring. Sama halnya dengan Prajurit Dua Prima Saleh Gea.

Eko, dokter di Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Mobile Republik Indonesia-Papua Niugini Yonif 7 Marinir, diduga bunuh diri karena terlilit utang untuk judi daring. Ia ditemukan bersimbah darah dengan posisi tubuh bersandar pada dinding ruangan.

Sementara Prima, anggota Batalyon Kesehatan 1 Divisi Infanteri 1 Kostrad Bogor, diduga gantung diri karena terjerat judi daring. Ia ditemukan di Kamar OB Rumah Sakit Lapangan Yonkes 1/YKH/1 Kostrad, Bogor, pada 4 Juni 2024.

Brigadir Satu (Briptu) Fadhilatun Nikmah bahkan membakar suaminya, Briptu Rian DW, karena menghabiskan tabungan untuk judi daring, Sabtu (8/6/2024), di Mojokerto, Jawa Timur. Rentetan kejadian ini menandakan judi daring sudah pada level akut dan telah menjangkiti seluruh lapisan masyarakat.

Sebanyak 3,2 juta warga di Indonesia bermain judi online pada tahun 2023 berdasarkan data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Sekitar 80 persen di antaranya bermain judi dengan nilai di bawah Rp 100.000. Akumulasi perputaran uang judi daring pada tahun 2023 mencapai Rp 327 triliun (Kompas, 19 Juni 2024).

Sehubungan dengan judi daring ini, Pusat Informasi Kriminal Bareskrim Polri mencatat penanganan 9.790 kasus judi selama kurun Januari 2021 sampai September 2023.

Pada saat yang sama, Kementerian Komunikasi dan Informatika memutus akses 1,91 juta konten bermuatan judi daring mulai dari 17 Juli 2023 hingga 22 Mei 2024. Kemenkominfo juga menutup 18.877 sisipan halaman judi daring di situs pendidikan dan 22.714 sisipan halaman di situs pemerintahan sampai 22 Mei 2024.

Selain itu, pada Juni lalu, pemerintah menegaskan akan satu barisan dalam memberantas judi daring dengan Satuan Tugas Pemberantasan Perjudian Daring. Satuan ini diyakini menyudahi ego sektoral yang selama ini melekat di sejumlah institusi dengan berbagai strategi, dari menelusuri aliran uang dalam ribuan rekening mencurigakan, menyelidiki jual-beli rekening, hingga menutup penjualan isi ulang gim yang diduga terafiliasi dengan praktik perjudian (Kompas, 19 Juni 2024).

Jutaan pemblokiran, ribuan penindakan, serta pembentukan satuan tugas tak otomatis menyurutkan bandar dan pemain judi daring. Hal tersebut menunjukkan judi daring sudah jadi masalah struktural yang tak bisa dituntaskan setengah-setengah.

Kriminolog Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Iqrak Sulhin, menuturkan, judi daring bukan fenomena setahun atau dua tahun, melainkan sudah lama ada di tengah masyarakat. Namun, negara seakan tidak serius menanganinya. Hal itu terlihat dari judi daring baru menjadi perhatian ketika muncul dengan dampak yang mengejutkan, seperti bunuh diri atau kekerasan dalam rumah tangga.

Negara juga seakan abai bahkan terhadap iklan judi online yang melibatkan sejumlah pesohor. Situasi ini kian parah dengan adanya dugaan keterlibatan aparat penegak hukum dalam judi daring yang kian marak.

”Menindak pelaku judi online tidak akan menyelesaikan masalah. Ini sama seperti polisi menindak pengguna narkotika. Masalahnya bukan di mereka, melainkan masalah struktural,” ujarnya, Senin siang.

Iqrak mengategorikan dua penyebab fenomena judi daring, yakni individual dan struktural. Penyebab individual erat kaitannya dengan motivasi untuk memperbaiki nasib secara instan dan ketidakpahaman individu mengenai risiko kerugian meskipun di awal berjudi bisa saja mendapatkan keuntungan.

”Terlebih dalam konteks judi online, di mana teknologi dapat direkayasa untuk menguntungkan bandar,” katanya.

Baca juga: Perang Lawan Judi Daring Sangat Minim

Selanjutnya, penyebab struktural. Ini merupakan hal yang paling mendasar. Pertama, terkait dengan akses kepada sumber-sumber pendapatan yang legal. Kedua, terkait dengan peran negara di dalam pengendalian judi daring.

Iqrak mengatakan, salah satu sebab orang berjudi untuk mendapatkan uang secara instan karena terbatasnya akses terhadap sumber-sumber pendapatan yang legal, misalnya, sulit mendapatkan pekerjaan atau kesempatan usaha yang menguntungkan. Dalam konteks ini, kebanyakan adalah mereka yang berasal dari kalangan menengah ke bawah.

”Judi online ini berkaitan dengan belum tertanganinya masalah kemiskinan, pengangguran atau ketimpangan sosial, serta keseriusan negara di dalam mengendalikan judi online,” ujarnya.

Link daftar silakan di klik : https://panached.org/