Apakah Judi Bisa Dijadikan Terapi? Simak Fakta Medis dan Risikonya

Tittle : Apakah Judi Bisa Dijadikan Terapi? Simak Fakta Medis dan Risikonya

Apakah Judi Bisa Dijadikan Terapi? Simak Fakta Medis dan Risikonya

Banyak orang yang terjebak dalam masalah finansial atau tekanan hidup mencari pelarian melalui berbagai cara. Salah satu mitos yang sering muncul adalah anggapan bahwa berjudi dapat menjadi sarana “buang sial” atau penghilang stres. Namun, secara medis dan psikologis, apakah judi bisa dijadikan terapi?

Jawabannya adalah TIDAK. Alih-alih menyembuhkan, judi justru dikategorikan oleh para ahli medis sebagai pemicu gangguan jiwa. Mari kita bedah detail lengkapnya mengapa judi sangat berbahaya jika dianggap sebagai mekanisme koping atau terapi.


Mengapa Judi Sering Disalahpahami sebagai “Terapi”?

Beberapa orang merasa judi memberikan ketenangan sesaat atau lonjakan kegembiraan. Hal ini disebabkan oleh:

  • Efek Dopamin: Saat menang (atau hampir menang), otak melepaskan dopamin, hormon yang memberikan rasa senang instan. Ini menciptakan ilusi bahwa stres sedang hilang.
  • Pelarian (Escapism): Konsentrasi penuh pada permainan membuat seseorang sejenak melupakan masalah hidup.

Namun, efek ini bersifat semu dan sangat merusak dalam jangka panjang.


Alasan Mengapa Judi Bukanlah Terapi

1. Memicu “Gambling Disorder” (Gangguan Perjudian)

Dalam dunia psikiatri (DSM-5), judi berlebihan diakui sebagai Gambling Disorder—sebuah gangguan adiksi perilaku yang setara dengan kecanduan narkoba. Terapi seharusnya menyembuhkan adiksi, bukan malah menciptakan ketergantungan baru.

2. Merusak Sistem “Reward” di Otak

Berbeda dengan terapi seni atau olahraga yang menyehatkan mental, judi membajak sistem reward di otak. Otak akan terbiasa dengan rangsangan tinggi, sehingga hal-hal sederhana yang biasanya membuat bahagia (seperti makan enak atau berkumpul keluarga) tidak lagi terasa menyenangkan.

3. Meningkatkan Hormon Stres (Kortisol)

Meskipun terasa menyenangkan di awal, fluktuasi antara menang dan kalah memicu produksi hormon kortisol yang tinggi. Bukannya rileks, tubuh penderita justru berada dalam kondisi fight or flight secara terus-menerus, yang berujung pada kelelahan mental kronis.

4. Risiko Depresi dan Pikiran Bunuh Diri

Statistik menunjukkan bahwa orang yang menjadikan judi sebagai pelarian dari masalah justru memiliki risiko depresi dan kecemasan yang jauh lebih tinggi. Tekanan hutang dan perasaan bersalah setelah kalah sering kali memicu keinginan untuk mengakhiri hidup.


Bahaya Menganggap Judi sebagai Penghilang Stres

Jika Anda terus menggunakan judi sebagai “terapi” mandiri, berikut adalah dampak nyata yang akan terjadi:

  • Kekacauan Finansial: Uang yang seharusnya untuk pengobatan atau kebutuhan hidup justru habis tak bersisa.
  • Isolasi Sosial: Anda akan mulai menarik diri dari teman dan keluarga karena rasa malu atau sibuk mencari pinjaman.
  • Penurunan Kesehatan Fisik: Kurang tidur, pola makan berantakan, dan risiko hipertensi akibat stres yang menumpuk.

Solusi Terapi yang Sebenarnya

Jika Anda merasa stres atau mengalami gejala gangguan mental, jangan mencari meja judi. Gunakan metode terapi yang terbukti secara ilmiah:

  1. CBT (Cognitive Behavioral Therapy): Terapi bicara dengan psikolog untuk mengubah pola pikir negatif.
  2. Olahraga Rutin: Cara alami untuk melepaskan endorfin tanpa risiko kehilangan uang.
  3. Konsultasi Psikiater: Jika diperlukan, dokter mungkin memberikan obat untuk menyeimbangkan kimia otak.

Kesimpulan

Kesimpulannya, pertanyaan mengenai apakah judi bisa dijadikan terapi telah terjawab dengan tegas oleh para ahli kesehatan: Judi adalah penyakit, bukan obat. Menjadikan judi sebagai pelarian hanya akan memperdalam lubang masalah yang sedang Anda hadapi.

Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi. Jika Anda atau orang terdekat mengalami kecanduan judi, segera hubungi layanan kesehatan jiwa atau hotline bantuan psikologi terdekat.

Link daftar silakan di klik : https://panached.org/