Tittle :Dinilai Gagal Berantas Judol, GPA Minta Menkodigi Mengundurkan Diri
Dinilai Gagal Berantas Judol, GPA Minta Menkodigi Mengundurkan Diri

Isu perjudian online (judol) di Indonesia mencapai titik kritis yang memicu kemarahan berbagai elemen masyarakat. Terbaru, kelompok aktivis yang tergabung dalam Generasi Muda Peduli Anti-Korupsi (GPA) secara terbuka menyampaikan tuntutan keras. Mereka meminta Menkodigi mengundurkan diri dari jabatannya karena dinilai gagal total dalam memberantas ekosistem judi online.
Tuntutan ini muncul menyusul semakin masifnya peredaran situs judi yang tidak hanya merusak ekonomi keluarga, tetapi juga telah menyusup ke berbagai instansi. GPA menilai, kebijakan yang diambil kementerian saat ini belum mampu menyentuh akar permasalahan.
Mengapa GPA Menuntut Menkodigi Mundur?
GPA menyampaikan beberapa alasan fundamental di balik desakan agar Menkodigi mengundurkan diri. Menurut juru bicara GPA, efektivitas kinerja kementerian dalam melakukan take down situs judol dianggap hanya bersifat permukaan.
1. Masih Maraknya Situs Judi Online
Meskipun ribuan situs diklaim telah diblokir, kenyataannya situs-situs baru muncul dengan sangat cepat. GPA melihat tidak adanya strategi “pemutusan urat nadi” yang permanen terhadap infrastruktur judol di Indonesia.
2. Lemahnya Pengawasan Internal
Publik belakangan dikejutkan dengan isu keterlibatan oknum di internal kementerian yang justru diduga “memelihara” situs judi tertentu. Hal ini dinilai sebagai kegagalan kepemimpinan tertinggi dalam mengawasi anak buahnya.
3. Dampak Sosial yang Semakin Luas
Angka kriminalitas, perceraian, hingga kasus bunuh diri akibat jeratan judi online terus meningkat. GPA menganggap Menkodigi tidak memiliki rasa urgensi (sense of crisis) yang cukup kuat untuk melindungi rakyat dari bahaya ini.
Urgensi Reformasi di Kementerian Komunikasi dan Digital
Desakan agar Menkodigi mengundurkan diri sebenarnya adalah bentuk mosi tidak percaya dari masyarakat sipil. GPA menekankan bahwa jabatan menteri adalah amanah yang harus dibarengi dengan hasil nyata, bukan sekadar statistik pemblokiran yang bersifat sementara.
“Pemberantasan judi online butuh keberanian dan integritas. Jika pimpinan sudah dinilai gagal dan tidak mampu membersihkan internalnya, maka mundur adalah jalan paling terhormat,” ujar perwakilan GPA.
Dampak Judi Online bagi Generasi Muda
Judi online bukan lagi sekadar masalah pidana, melainkan ancaman nasional. GPA menyoroti bagaimana judol telah merusak mentalitas generasi muda yang tergiur kekayaan instan. Jika kementerian terkait tetap dipimpin oleh figur yang dinilai gagal, masa depan digital Indonesia dipertaruhkan.
Beberapa dampak nyata yang disoroti meliputi:
- Kehancuran Ekonomi: Masyarakat menengah ke bawah menjadi korban paling terdampak.
- Pencurian Data: Banyak situs judi digunakan untuk melakukan phishing dan pencurian data pribadi.
- Gangguan Mental: Kecanduan judi memicu depresi berat bagi para pelakunya.
Kesimpulan: Mundur Sebagai Bentuk Tanggung Jawab
Tuntutan GPA agar Menkodigi mengundurkan diri menjadi bola panas di tengah upaya pemerintah memerangi kejahatan digital. Publik kini menunggu apakah desakan ini akan berujung pada perombakan besar-basi di kementerian atau sekadar menjadi angin lalu. Satu yang pasti, perang melawan judi online membutuhkan sosok yang mampu bekerja bersih, transparan, dan tanpa kompromi.
Link daftar silakan di klik : https://panached.org/
