Menguak Modus ‘Konsorsium’ dalam Dugaan Korupsi Bansos Beras: Apa Itu dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Tittle : Menguak Modus ‘Konsorsium’ dalam Dugaan Korupsi Bansos Beras: Apa Itu dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Menguak Modus ‘Konsorsium’ dalam Dugaan Korupsi Bansos Beras: Apa Itu dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Kasus korupsi bansos beras kembali menjadi sorotan tajam. Kali ini, muncul istilah “modus konsorsium” yang diduga digunakan untuk mengeruk keuntungan dari dana bantuan bagi masyarakat miskin. Bagi orang awam, istilah ini mungkin terdengar teknis dan rumit. Namun, jika dibedah, modus ini sebenarnya adalah cara lama yang dikemas dalam struktur yang lebih rapi.

Mengapa bantuan untuk rakyat kecil bisa dikorupsi dengan cara yang begitu sistematis? Mari kita bedah detailnya dengan bahasa yang mudah dicerna.


Apa Itu Modus Konsorsium dalam Kasus Korupsi?

Secara sederhana, konsorsium adalah gabungan dari beberapa perusahaan atau pengusaha yang bekerja sama untuk memenangkan sebuah proyek besar. Dalam konteks normal, ini sah-sah saja. Namun, dalam dugaan korupsi bansos beras, konsorsium ini disinyalir dibentuk bukan untuk efisiensi, melainkan untuk:

  1. Mengatur Pemenang Lelang: Perusahaan-perusahaan di dalam konsorsium diduga sudah “bersekongkol” agar merekalah yang terpilih oleh penyedia bantuan.
  2. Membagi Lapak Keuntungan: Masing-masing anggota konsorsium mendapatkan jatah pengadaan beras di wilayah tertentu dengan harga yang sudah digelembungkan (markup).
  3. Menyingkirkan Pesaing: Dengan bergabungnya kekuatan besar, pengusaha kecil atau vendor jujur tidak akan punya kesempatan untuk masuk dalam proyek pengadaan.

Bagaimana Cara Kerja Modus Ini? (Langkah Demi Langkah)

Agar lebih mudah dibayangkan, berikut adalah alur yang diduga terjadi dalam praktik korupsi tersebut:

1. Penunjukan Perusahaan “Boneka”

Oknum pejabat atau makelar proyek sering kali menggunakan perusahaan yang sebenarnya tidak punya pengalaman di bidang beras, namun punya “kedekatan” politik.

2. Penggelembungan Harga (Markup)

Harga beras yang seharusnya dibeli dengan kualitas tertentu, harganya dinaikkan dari harga pasar. Selisih harga inilah yang masuk ke kantong para anggota konsorsium dan oknum pejabat.

3. Penurunan Kualitas Beras

Untuk memaksimalkan keuntungan, beras yang diberikan kepada rakyat sering kali kualitasnya diturunkan. Beras yang seharusnya premium diganti menjadi beras medium yang berkutu atau berbau apek.

4. Pengiriman Fiktif atau Berkurang

Kadang, jumlah beras yang dilaporkan telah dikirim tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.


Tabel Perbandingan: Bansos yang Benar vs Modus Konsorsium Korupsi

AspekPenyaluran Bansos BenarModus Konsorsium Korupsi
Pemilihan VendorLelang terbuka & transparanPenunjukan lewat “kerabat” (Plotting)
Kualitas BerasSesuai standar layak konsumsiKualitas diturunkan demi untung besar
HargaSesuai harga pasar yang wajarHarga di-markup (digelembungkan)
PenerimaRakyat mendapatkan hak penuhDana bocor ke kantong “konsorsium”

Mengapa Modus Konsorsium Ini Sangat Berbahaya?

Dugaan korupsi bansos beras dengan modus konsorsium jauh lebih berbahaya daripada korupsi individu. Kenapa? Karena:

  • Terorganisir: Karena dilakukan berkelompok, jejaknya lebih sulit dilacak karena melibatkan banyak lapisan perusahaan.
  • Nilai Kerugian Besar: Konsorsium biasanya menangani proyek dalam skala nasional, sehingga kerugian negara bisa mencapai ratusan miliar hingga triliunan rupiah.
  • Dampak Sosial: Masyarakat yang sedang kesulitan ekonomi justru mendapatkan beras yang tidak layak makan.

Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?

Dalam mengungkap kasus ini, peran KPK dan PPATK sangat krusial. Penelusuran aliran dana dari satu perusahaan ke perusahaan lain dalam konsorsium tersebut akan menjadi bukti kunci. Selain itu, pengawasan digital melalui sistem pengadaan barang dan jasa secara elektronik (e-procurement) harus terus diperketat agar tidak ada lagi celah bagi “titipan” oknum tertentu.


Kesimpulan

Modus konsorsium dalam korupsi bansos beras adalah bentuk kejahatan yang sangat rapi. Ia melibatkan banyak tangan untuk menutupi jejak busuknya. Rakyat sebagai penerima manfaat adalah pihak yang paling dirugikan. Kita perlu terus mengawal kasus ini agar hukum bisa menjangkau hingga ke “otak” di balik gabungan perusahaan nakal tersebut.

Link daftar silakan di klik : https://panached.org/