Apakah Judol Bikin Orang Jadi Bodoh? Mengungkap Dampak Judi Online pada Otak

Tittle :Apakah Judol Bikin Orang Jadi Bodoh? Mengungkap Dampak Judi Online pada Otak

Apakah Judol Bikin Orang Jadi Bodoh? Mengungkap Dampak Judi Online pada Otak

Belakangan ini, fenomena judi online (judol) telah menjadi masalah sosial yang mengkhawatirkan. Banyak orang bertanya-tanya, mengapa seseorang yang cerdas sekalipun bisa terjebak dalam lingkaran setan yang jelas-jelas merugikan? Muncul sebuah pertanyaan tajam: “Apakah judi online bikin orang jadi bodoh?”

Secara medis, jawabannya bukan tentang penurunan skor IQ secara permanen, melainkan tentang bagaimana judi online “membajak” cara kerja otak sehingga seseorang kehilangan kemampuan untuk berpikir logis.


1. Bajak Dopamin: Bagaimana Otak Kehilangan Logika

Judi online dirancang dengan algoritma yang memicu pelepasan dopamin dalam jumlah besar. Dopamin adalah zat kimia di otak yang menciptakan rasa senang dan penghargaan.

Saat seseorang bermain judol, sensasi “nyaris menang” (near-miss) memicu dopamin yang sama kuatnya dengan kemenangan nyata. Hal ini membuat otak terus-menerus mencari stimulasi tersebut. Akibatnya, bagian otak bernama Prefrontal Cortex—yang bertanggung jawab atas logika, perencanaan, dan pengendalian diri—menjadi “lumpuh”. Inilah yang membuat orang terlihat “bodoh” karena mereka tidak lagi mampu melihat risiko yang jelas.

2. Penurunan Fungsi Kognitif dan Konsentrasi

Kecanduan judi online memaksa otak untuk berada dalam kondisi waspada tinggi (hyper-arousal) secara terus-menerus. Dampaknya terhadap fungsi kognitif meliputi:

  • Sulit Fokus: Pikiran selalu teralihkan oleh keinginan untuk melakukan deposit atau memeriksa angka.
  • Pengambilan Keputusan yang Buruk: Orang yang kecanduan cenderung mengambil keputusan impulsif tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang.
  • Kehilangan Kemampuan Analisis: Meskipun sadar bahwa bandar pasti menang secara statistik, otak pecandu mengabaikan fakta tersebut demi harapan semu.

3. Efek “Tunnel Vision” (Pandangan Terowongan)

Pecandu judi online sering kali mengalami fenomena tunnel vision. Mereka hanya fokus pada satu tujuan: mengembalikan modal yang hilang (chasing losses).

Dalam kondisi ini, kecerdasan rasional seolah tidak berfungsi. Seseorang bisa menjual aset berharga atau meminjam uang dengan bunga tinggi (pinjol) hanya demi satu taruhan lagi. Secara kasat mata, perilaku ini terlihat tidak cerdas, namun secara psikologis, ini adalah bentuk gangguan fungsi kontrol otak.

4. Kelelahan Mental dan Stres Kronis

Judi online sering kali dilakukan hingga larut malam, mengganggu pola tidur. Kurang tidur secara kronis secara signifikan menurunkan kemampuan kognitif. Orang yang kurang tidur akan mengalami penurunan daya ingat, kreativitas, dan kemampuan menyelesaikan masalah. Jadi, secara tidak langsung, gaya hidup pecandu judi memang menurunkan kualitas intelektual mereka sehari-hari.


Apakah Dampak Ini Bisa Dipulihkan?

Kabar baiknya, otak memiliki sifat neuroplasticity atau kemampuan untuk memperbaiki diri. Namun, proses ini membutuhkan waktu dan langkah yang tepat:

  1. Berhenti Total: Memberikan waktu bagi reseptor dopamin di otak untuk kembali normal.
  2. Detoks Digital: Menjauhkan diri dari perangkat yang memicu keinginan bermain.
  3. Bantuan Profesional: Terapi perilaku kognitif (CBT) dapat membantu melatih kembali cara otak mengambil keputusan.

Kesimpulan

Judi online tidak serta-merta menurunkan angka kecerdasan seseorang sejak lahir, namun ia melumpuhkan fungsi logika dan merusak kemampuan mengambil keputusan. Orang yang terlihat “bodoh” karena judi sebenarnya sedang mengalami gangguan fungsi otak akibat kecanduan yang ekstrem.

Link daftar silakan di klik : https://panached.org/